Selamat sore,
Mencari sebuah jawaban atas terjadinya hal yang tidak diinginkan, merupakan hal yang pada dasarnya rumit untuk ditemukan dan juga rumit untuk diperbaiki. Adapun hal yang kemudian saya bisa lakukan pada kesempatan kali ini, pada dasarnya hanya bisa meratapi akan nasib dan menunggu situasi kembali seperti sedemikian kala. Lamunan yang menyulitkan saya untuk bertahan, terlebih bila seandainya perubahan atas model kemasan dari produk tembakau dilakukan secara paksa, pada tahun depan. Pemulaan kali ini, pada dasarnya hanyalah sebuah lamunan yang tiada henti bagi saya pribadi, dan aforisme pada kesempatan kali ini, merupakan gambaran yang kemudian sulit dan tidak mudah untuk diatasi secara harfiah. Harap maklum, sekali lagi.
Ulasan kali ini pada dasarnya merupakan sebuah ulasan yang bisa dianggap sebagai ulasan yang unik. Sebuah produk yang diluncurkan pada Agustus 2024 lalu di beberapa wilayah Sumatera, mengusung format yang sebenarnya pernah diterapkan pada produk sejenis, namun dengan pendekatan yang pada akhirnya bisa dianggap sebagai pendekatan yang menjadi solusi akhir, kala penjualan volume total terus merosot. Produk pertama dari lini Sampoerna A Mild yang kemudian mengusung batang besar khas, dengan nama Sampoerna A Zetta. Adapun produk ini, pertama kali diluncurkan pada dua wilayah di kawasan Sumatera, yakni pada wilayah Palembang dan Pekanbaru; dengan menggunakan pendekatan khas dari Sampoerna A yang tegas, namun dengan dua tema utama yang tidak bisa dianggap remeh. Pendekatan tersebut dapat dilihat dari pendekatan "Selangkah lebih besar" dan "Lebih dari sebentar", model tema khas gamblang dari A Mild, namun kali ini ia menonjolkan dirinya dengan model batang yang lebih besar dan lebih tebal.
Produk ini kemudian bisa disebut sebagai Sampoerna Zetta, ataupun A Zetta bila merujuk kepada model promosi yang sudah beredar di dua kota tersebut. Adapun A Zetta itu sendiri, mengusung format batang yang khas dari model SKM Medium Tar, memiliki panjang sebesar 90 mm namun memiliki ketebalan yang khas dari model "bold", yakni sekitar 8mm. Model rokok ini bisa disamakan dengan model batang, yang pernah diterapkan pada Sampoerna A King Size; sebagai jawaban atas model SPM yang memiliki ukuran batang besar khas, pada era 90-an. Adapun kemudian, reformulasi atas A King Size yang pernah merajai pada kategori SKM LTLN Medium tersebut; pada konteks A Zetta, memiliki model rajangan yang sedikit lebih berat ketimbang A Mild dan ukuran batang lebih tebal, namun secara fisik memiliki banyak hal yang serupa dengan model batang pada A Mild secara umum.
Produk ini, kemungkinan besar menggunakan rancangan khas dari A King Size yang dimodifikasi dengan kadar lebih besar, dengan tujuan untuk menciptakan efek halus mantap yang lebih kuat, dan juga menciptakan durasi bakar yang lebih lama ketimbang produk sebelumnya. Tentunya, penggunaan nama Zetta sendiri, dapat diartikan sebagai "the last resort" dari model Kretek Mild. Sebuah model yang mengusung pada racikan khas A Mild yang legendaris dan ringan, namun dengan tujuan sebagai usaha penyelamatan, maka hal tersebut dikemas dengan unsur yang tentunya berbeda, namun tetap menjual ciri khas dari Sampoerna A.
Perancangan yang konon memakan waktu kurang dari satu tahun sebelum peluncuran tersebut, pada dasarnya merupakan usaha penyelamatan dari lini A Mild 12 yang belakangan ini, dirasa memiliki harga yang lebih mahal; namun dari harga yang mahal tersebut dianggap tidak sebanding dengan apa yang ditawarkan secara harga keseluruhan. Model yang konon akan menggantikan lini A Mild 12 secara utuh pada masa yang akan datang (dengan kemungkinan estimasi peluncuran nasional, pada tahun depan yakni 2025), kemudian pertama kali dijual sebagai jawaban atas meningkatnya kategori "bold hybrid" yang , menjadi tren tersendiri dalam penjualan SKM secara penuh.
Kategori tersebut, kemudian dipimpin secara nyata oleh Djarum dengan berbagai produknya (termasuk acuan utama, yakni Djarum Super MLD Black Series) dan Nojorono Group (dengan produk Aroma Bold dan Jazy Bold). Adapun kemudian, Sampoerna belum memiliki model "bold hybrid" yang mengusung dua sensasi sekaligus; yakni sensasi hisapan halus yang mantap, dengan bakaran yang lebih lama; dan ukuran batang yang lebih besar bila dibandingkan dengan model slim pada SKM LTLN. Sebagai produk yang dianggap sebagai produk "terkini" dan "pilihan terakhir" dari lini Sampoerna A secara penuh, A Zetta kemudian dirancang untuk memiliki semua sensasi khas Mild yang ringan, namun dengan durasi bakar yang lebih lama ketimbang Mild itu sendiri.
Semua keunggulan pada A Mild, kemudian dimunculkan dalam model bakaran lebih lama dan ukuran batang yang melampaui ukuran LTLN secara penuh. Adapun penggunaan nama Zetta itu sendiri, selain sebagai pilihan terakhir, bisa juga kemudian dianggap sebagai penekanan atas tren rokok Bold (medium tar) yang pada akhirnya, tetap mengusung citarasa khas A Mild yang unik dan memiliki kehalusan tersendiri. Gaya khas A Mild yang dibuat berbeda, itulah kunci utama dalam memahami A Zetta secara penuh.
Baiklah, itu sedikit pengantar dari saya terkait bagaimana produk tersebut harus dimaknai secara penuh. Langsung saja kita ulas produk ini dimulai dari harganya terlebih dahulu. Berdasarkan info dari pengirim dari lokasi yang berbeda, produk ini secara umum dapat dijumpai dengan Rp. 23.000,- untuk satu bungkus berisikan 12 batang (pita cukai golongan I sebesar Rp. 27.125,- per 12 batang). Adapun produk ini memiliki harga yang bahkan, terkesan lebih murah ketimbang A Mild 12 secara umum, yang dapat dijumpai dengan harga jual 26.000 hingga 28.000 per 12 batang.
Pengenaan harga produk yang kemudian berbeda dengan A Mild 12 tersebut, menjadi penting dalam memaknai bahwa target utama yang disasar adalah kelas menengah ke bawah, yang menginginkan produk SKM legal dengan harga yang lebih murah, dengan tetap mempertahankan citarasa khas yang berkualitas A dari Sampoerna A itu sendiri. Meskipun kemudian rokok ini pada akhirnya, bagi sebagian kalangan akan dianggap cukup mahal, namun bagi saya sendiri, masih terhitung terjangkau pada akhirnya.
Untuk harga sendiri, kemudian saya bisa beri nilai 8 dari 10.
Kemudian kita coba kaji kemasannya secara saksama dan perlahan.
Sekedar informasi tambahan, bahwa ulasan kali ini akan membahas dua model dari kemasan A Zetta yang diperjualbelikan pada wilayah yang berbeda, yakni "Batik Abu-abu" pada wilayah Palembang dan sekitarnya, dan "Batik Merah" pada wilayah Pekanbaru dan sekitarnya.
Durasi bakar yang kemudian ditawarkan oleh rokok ini mencapai 14 hingga 16 menit, dengan angka total durasi bakaran yang saya capai mencapai 15 menit pas. Artinya, bahwa durasi bakar pada rokok ini memiliki total menit tambahan sebanyak 3 sampai 4 menit, yang pada akhirnya cukup lama untuk menikmati citarasa khas A Mild dengan durasi yang lebih panjang tersebut. Namun hal tersebut kemudian sangat tergantung dengan situasi dan kondisi kala menghisap, gaya Anda dalam menghisap rokok ini, faktor cuaca kala Anda menghisap, dan faktor eksternal lain yang berkaitan dengan durasi bakar secara keseluruhan. Model aftertaste yang ditawarkan merupakan gaya khas A Mild secara penuh, dengan penekanan gaya aroma halus woody dan smoky khas, berikut sensasi nutty halus, adanya rasa manis bawaan dari tembakau, sensasi rasa dan aroma dari mead dan bourbon yang tampak baik, dengan penekanan lain pada unsur rasa khas licorice yang bertahan lama, dan efek oily khas dari cengkeh bawaan rokok ini.
Adapun kelemahan rokok ini pada dasarnya cukup simpel, tampak bahwa penekanan rasa dan aroma yang digunakan pada rokok ini masih mengacu kepada gaya A Mild yang belum mengalami modifikasi pada penambahan pemanis, sebagai konsekuensi atas penggunaan liner kertas ramah lingkungan. Mengingat bahwa model hisapan yang kemudian muncul terkesan hambar dan tidak memiliki rasa manis tebal, rokok ini pada akhirnya cukup masuk bagi saya pribadi, namun terkesan tidak bisa digeneralisasi secara penuh. Tampak juga bahwa rokok ini memiliki model pembakaran yang terkesan cepat, meskipun diameter pada batang tampak lebih besar. Adapun jawaban atas kemungkinan kelemahan tersebut, muncul sebagai efek dari gaya khas A Mild yang belum sempat mengalami modifikasi rasa secara penuh, sehingga bila ada pihak Sampoerna yang memang melihat ulasan ini, maka tampaknya perlu menambahkan perisa yang lebih banyak dan pemanis yang lebih kuat pada rokok ini. Meskipun kemudian rasa pada rokok ini tampak cukup baik, bagi saya pribadi.
Gaya khas A Mild yang nampak diterapkan begitu saja dengan kurangnya unsur pemanis yang tidak diperkuat, dan juga ukuran yang lebih besar, serta durasi bakar yang lebih lama. Itulah kesan saya akan produk A Zetta, yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik lagi. Bila kemudian ke depan rasa rokok ini menjadi sama dengan A Mild 16, maka ada besar kemungkinan bahwa modifikasi rasa pada rokok ini mulai diterapkan secara penuh, di masa yang akan datang. Hal tersebut mungkin menjadi masukan, dan gambaran rasa yang akan diterapkan di masa yang akan datang.
Untuk rasa sendiri, saya beri nilai 8.8 dari 10
KESIMPULAN
A Zetta merupakan gaya khas A Mild yang kemudian memiliki durasi bakar lebih lama, dan efek hisapan yang sedikit superior ketimbang A Mild. Meskipun memiliki durasi yang lebih lama, citarasa khas yang muncul pada rokok ini, pada dasarnya merupakan model A Mild dengan total bobot batang yang lebih berat dan lebih solid, dengan konsekuensi ukuran diameter yang lebih besar. Namun bahwa kelemahan khas yang muncul, kemudian memiliki kesamaan dengan model A Mild yang belum mengalami modifikasi rasa secara penuh, tampak sedikit hambar, kurang manis, dan juga efek bakaran yang khas cepat dari tipe LTLN. Meskipun memang terlihat ada kelemahan yang cukup signifikan, rokok ini mungkin di masa yang akan datang, hadir dengan rasa yang lebih superior, itu harapan saya pribadi.
Distribusi rokok ini tampak tidak menjangkau wilayah Sumatera secara utuh, dengan catatan bahwa rokok ini dijual pada wilayah Pekanbaru dan sekitarnya, wilayah Palembang dan sekitarnya, dan saya mendengar, rokok ini akan dijual di wilayah Sumatera Utara pada bulan ini. Adapun kemungkinan produk ini bisa berlaku secara nasional, baru bisa terlihat pada tahun 2025 atau tahun depan, dengan catatan hasil trial dari pihak Sampoerna, membuahkanm hasil yang baik. Rokok ini secara umum ditemukan pada gross trade atau wilayah toko tradisional, semisal toko kelontong, grosir, dan juga warung. Apakah kemudian rokok ini masuk di minimarket di sekitar wilayah tersebut? Saya kurang memahaminya secara utuh, mengingat distribusi dari rokok ini masih dalam tahap percobaan, yang belum signifikan.
1 Komentar
Baru kali ini saya tahu ada blogger khusus rokok.
BalasHapusDengan sangat detil sekali...tetap semangat...SMG menginspirasi semuanya