Selamat dini hari,
Awal November ini bisajadi merupakan awal yang terhitung baik, mungkin ini juga sebuah pertanda bahwa review yang dibuat pada bulan ini, akan lebih banyak ketimbang beberapa bulan terakhir. Meskipun saya akui, ada beberapa rencana yang kemungkinan besar penulis hadapi namun dalam waktu yang belum ditentukan. Belajar untuk menjadi lebih baik lagi misalkan, dengan memutar otak untuk mencari literatur yang bisa mengasah ketajaman batin dan pikiran, saat ini saya lakukan demi menjadi pribadi yang pada akhirnya bisa lebih baik, bila dibandingkan dengan sebelumnya. Permulaan ini agak berat, namun apasalahnya bila tak mencoba?
Review kali ini sebenarnya review yang terhitung spesial (bahkan kesempatan ini terhitung mengejutkan buat saya dan beberapa perokok yang tak familiar dengan Djarum 76 di daerahnya). Produk ini seperti judul post, dinamakan Djarum 76 Madu Hitam (bisa disebut 76 Madu, 76 Madu Hitam, 76 Hitam, bahkan kalau mau sedikit bergaya dengan leksikal asing, 76 Black Honey).
Tentunya kabar terkait produk ini sebenarnya sudah saya dapatkan dari akhir Agustus lalu. Ada sekelumit kabar yang datang ke saya, bahwa akan ada sebuah pengembangan dari produk Sigaret Kretek Tangan (selanjutnya bisa dibilang sebagai Kretek Tangan), dengan menggunakan unsur alami yakni madu. Kabar ini sebenarnya sudah cukup spesifik, namun terus terang belum diketahui saat itu akan diposisi di segmen harga berapa.
Twit ini sudah saya post layaknya yang ada dibawah ini:
Sarang ubur-ubur ini merupakan kata kunci utama untuk menjawab satu masa depan dari sebuah rasa yang terjawab dengan sebuah 'cling' dan penuh dengan pembawaan metode unsur "ridiculous"
— Review Rokok (@ReviewRokok) August 28, 2021
Tak akan terjawab sampai waktu yang sudah tepat pic.twitter.com/DrHXxicwJU
Sejujurnya, saya sempat ragu bahwa produk ini akan diluncurkan pada kuartal ketiga tahun 2021. Asumsi saya pada saat itu hanya bisa mengatakan produk ini masih lama untuk diluncurkan, dikarenakan beberapa kawan mengatakan industri rokok saat ini terhitung menurun (meski segmen High Tar dikabarkan memiliki kenaikan, dikarenakan switching dari low tar cukup besar). Dan untuk menjual produk di kisaran dua bulan sebelum berakhirnya 2021, merupakan satu hal yang dikatakan "tanggung waktu", karena seperti biasa, kenaikan cukai untuk 2022 baru bisa diketahui pada Desember.
Untuk kategori SKT apakah akan dinaikan layaknya SKM atau SPM yang terjadi pada tahun ini? Tentu ini belum bisa terjawab pasti.
Hal yang saya salut terkait PT Djarum, ditengah ketidakpastian cukai yang naik untuk tahun depan pada kategori SKT, terlebih sempat merugi karena Kudus sempat masuk Zona Hitam sehingga lini SKT sempat merugi untuk semua pabrikan sigaret golongan tangan, pada akhirnya berhasil membawa dimensi terbaru (dan tentunya, lebih murah) dari kategori yang memang sedang naik dan meroket (bahkan dibandingkan SKM sekalipun, Djarum masih bisa menyaingi HM Sampoerna sebagai market leader pada kategori SKT).
Dimensi yang dibawa terhitung unik (bahkan pendekatan yang sejauh ini hanya dilakukan oleh produsen SKT berembel-embel "herbal atau obat") pada akhirnya dicoba dengan modifikasi dari racikan legenda dari Djarum 76, dengan tetap mempertahankan keaslian Rajangan Krosok Tembakau dan Cengkeh asli Indonesia (dalam artian tidak menggunakan rempah padat pada racikan layaknya rokok "herbal atau obat"), dengan saus khusus yang dibuat dengan madu hitam alami.
Sekedar info, Madu Hitam secara umum memiliki harga yang mahal (bila mengacu kepada harga madu hitam asli dari hutan). Karakter yang dibawa cenderung manis namun pahit tak berlebih, mengarah kepada molasses yang baru diproses dan masih bersifat banyak residu (bisa disebut juga dengan karakter crude molasses, sering digunakan juga pada pembuatan SKT aliran natural), cukup sepat namun masih bisa dinikmati meski dalam kondisi dalam sendok.
Dikarenakan keberhasilan peternakan madu hitam sudah bisa ditemukan di beberapa wilayah khususnya pulau Jawa, PT Djarum pada akhirnya mencoba mengaplikasikan Madu Hitam (persentase ini belum bisa diketahui, namun saya pastikan tidak bisa digunakan secara murni, terkait biaya produksi) ke dalam saus legendaris dari Djarum 76.
Tentunya ini tetap ada konsekuensi, baik jenis Tembakau maupun elemen saus harus ada yang diseimbangkan demi mencapai karakter yang bisa menyeimbangi Madu Hitam (sebagaimana yang dijual oleh Djarum 76 ini).
Terlebih saat ini Republik Indonesia memasuki fase perayaan kemerdekaan pada 76 Tahun, maka tahun ini dikatakan tepat untuk meluncurkan inovasi dengan nilai "Kenikmatan Citarasa Asli Nusantara". Bila dipikir ulang, HUT R.I. Ke 76 Tahun sangat bertepatan dengan brand Djarum 76 itu sendiri, dan tak heran pada akhirnya, Djarum 76 Madu Hitam diluncurkan pada tahun 2021, tepatnya pada akhir Oktober 2021 lalu.
Baiklah, setelah lama bercerita panjang lebar terkait asumsi dasar mengapa produk ini bisa diluncurkan, mari kita mulai review rokok ini dari harga yang ditawarkan oleh rokok ini. Rokok ini bisa didapatkan dengan harga Rp. 13.000,- (ada kawan yang menyampaikan harga rokok ini bisa melambung jauh diatas Rp. 15.000 di beberapa tempat, cukai 2021 Golongan I sebesarRp. 12.600) untuk kuantitas SKT berisi 12 batang.
Terhitung lebih murah bila dibandingkan dengan Djarum 76 12 batang (di daerah saya, 76 12 batang dijual) atau Djarum Coklat, di tempat saya bisa ditawarkan sekitar Rp. 14.000-15.000 untuk satu bungkus. Bahkan harga ini memiliki kesamaan dengan Sampoerna Kretek Hijau 12 atau Sampoerna 234 Marun.
Untuk harga sendiri, saya bisa berikan nilai 9.8 dari 10
Kemudian kita coba review kemasan rokok ini secara seksama
Demikian postingan saya kali ini. Bila ada pertanyaan silahkan email saya, mention atau DM saya via Twitter di @ReviewRokok, dan hubungi saya via WhatsApp di tombol diatas. Jadilah perokok yang bertanggungjawab dan tercerahkan. Sekian dan terima kasih.
0 Komentar