Gudang Garam Djaja, SKT Value For Money dari Gudang Garam

Selamat malam,

Belakangan ini kesibukan admin semakin memuncak, dalam hal ini kehidupan admin semakin lama terasa berat. Kali ini saja admin dihadapkan dengan dua masalah yang lebih kepada kesibukan admin, dalam hal ini masalah yang ada bukan masalah pribadi melainkan masalah yang terjadi dikarenakan kesalahan admin yang admin kerjakan saat ini. Saya memang manusia biasa, yang tak luput dari salah. Namun apa daya, dengan ditemani sebatang rokok dan kopi hitam admin bisa tetap survive sampai sekarang. Bahkan disela-sela kesalahan yang admin perbuat pada saat istirahat dari pekerjaan kepanitiaan yang admin ikuti, admin akhirnya sempat untuk mereview rokok apa saja yang hadir di Indonesia ini.

Admin tadi siang baru saja mendapat barang yang bisa dibilang hanya satu di warung tersebut, yakni Gudang Garam Djaja. Dalam hal ini admin mendapatinya di warung dimana admin mereview rokok Aroma SLM yang sudah dipos sebelumnya. Saat admin ingin membeli rokok tersebut, admin dilayani oleh sesosok anak SMA yang tak lain anak dari pemilik warung tersebut. Jujur, admin tadi juga membeli Maxus di Indomaret, namun ketika admin ingin merasakan rokok SKT Gudang Garam yang bisa dibilang ini kedua kalinya setelah Gudang Garam Gold yang kini sudah tidak tersedia lagi, admin akhirnya membiarkan Maxus yang sudah dibeli sebelumnya untuk dikonsumsi esok hari saja. Admin kemudian bertanya berapa harga dari rokok ini, kemudian setelah ditanyakan kepada si bapak pemilik warung, maka ia menjawab 

"10.000 saja."

Admin akhirnya membeli rokok ini dengan sepenuh hati. Dalam artian admin saat ini sedang dalam kondisi siap untuk mereview rokok yang menjadi salah satu tumpuan Gudang Garam dalam hal segmen SKT. Gudang Garam sendiri memang tidak terlalu mempromosikan jenis SKT, dikarenakan segmen SKM yang menjadi tumpuan dari Gudang Garam sendiri saat ini terhitung sangat besar pertumbuhannya, bahkan untuk kategori SKM Full Flavor saja, Gudang Garam masuk ke dalam Top 3 Besar merek SKM Full Flavor yang dikonsumsi. Seperti biasa, admin akan memberi sedikit analisis mengapa Gudang Garam Djaja tetap bisa bertahan hingga saat ini, bahkan di tahun 2013 saja Gudang Garam Djaja mengubah kemasannya agar image mudanya tetap ada. Dalam hal ini admin akan memaparkan analisisnya sebagai berikut

  1. Segmen SKT merupakan segmen dimana pertumbuhannya bisa dibilang termasuk lambat untuk hitungan saat ini. Walaupun berdasarkan laporan terakhir dari Annual Report Gudang Garam tahun 2015 segmen ini meningkat secara market share total nasional dari angka tahun sebelumnya (2014) yakni 8.046% menjadi di tahun 2015 sebesar 8.486%, hal ini sontak tidak menunjukan peningkatan yang drastis dalam hal penjualan. Malah dalam angka 8%, segmen SKT Gudang Garam termasuk rendah dibandingkan kompetitor, terutama HM Sampoerna dan Djarum. Imbasnya, portofolio SKT yang ditawarkan Gudang Garam cenderung lebih sedikit dikarenakan rasa yang kurang begitu cocok dengan konsumen SKT pada umumnya yang lebih prefer ke rasa natural spicy (dalam hal ini karakter Sampoerna merupakan karakter yang kebetulan paling cocok diantara merek rokok SKT lain). Gudang Garam SKT yang menggunakan basic manis raspberry berpadu dengan rasa gurih rempah sebagai penyedap agak kurang begitu cocok, mengingat jenis rokok ini termasuk kurang begitu awet dalam hal penyimpanan. Imbasnya sendiri, dikarenakan rasa rokok yang kurang begitu disukai konsumen awam menyebabkan terjadinya PHK besar-besaran yang di tahun 2014. Gudang Garam pada awal tahun 2014 meluncurkan Gudang Garam Gold, namun dikarenakan penjualannya kurang begitu baik maka pada akhirnya produk ini (saya kurang tahu masih ada atau tidak) sepertinya di anak tirikan. Gudang Garam Djaja yang semula hampir ingin dimatikan dikarenakan market sharenya sangat kecil tetap ada dikarenakan potensi dari perokok value for money yang menginginkan kualitas Gudang Garam namun dengan harga murah bisa tercapai.
  2. Gudang Garam Djaja sendiri merupakan produk unggulan SKT Gudang Garam dalam hal segmen value for money, selain juga Taman Sriwedari yang hanya dijual di daerah tertentu saja. Menyasar kepada kelas sosial C dan D (bahkan lebih menjurus kepada kelas sosial D dan E) berusia 30-40 tahun (dalam hal strategi komunikasinya) yang hidup bersahaja, memiliki kerja keras yang tinggi, pantang menyerah, dan saya bilang perokok ini cenderung pasrah terhadap kondisi ekonominya. Gudang Garam Djaja sendiri berubah kemasannya pada tahun 2013, dengan menambahkan motif batik serta adanya rounded rectangle pada bagian depan dan belakang kemasan. Hal ini sejalan dengan perubahan yang dilakukan dalam keluarga Gudang Garam (Gudang Garam International, Gudang Garam Djaja, Gudang Garam Merah). Perubahan ini seakan memperlebar pangsa pasar yang sudah dimiliki oleh Gudang Garam yakni menyasar kepada konsumen dari kelas sosial yang sama namun berusia lebih muda dibandingkan target sebelumnya.
  3. Gudang Garam Djaja, bersama dengan Gudang Garam Merah (dan Gudang Garam King Size) merupakan portofolio penyokong utama dari penjualan SKT dari Gudang Garam sendiri. Dalam hal ini, Gudang Garam senantiasa mempertahankan produk SKTnya dikarenakan peminat dari jenis rokok ini tetaplah ada, walaupun bisa dibilang lebih rendah dibanding sebelumya.
Baiklah, itu merupakan sedikit analisis mengenai mengapa Gudang Garam Djaja tetap bisa bertahan hingga saat ini. Mari kita mulai reviewnya dengan seksama. Untuk rokok ini tadi siang saya beli dengan harga Rp. 10.000 (cukai 9.300) dengan kuantitas isi 12 batang. Dikarenakan harga standar SKT memang murah maka saya bisa maklumi dengan hal tersebut. Untuk harga sendiri saya beri nilai 10 dari 10.

Kemudian kita review kemasannya dengan seksama







Kemasan rokok ini menggunakan basis warna hijau tua dan merah serta putih. Pada bagian depan kemasan terdapat logo Gudang Garam dengan menggunakan outline berwarna merah khas rokok ini. Dalam hal ini, tulisan Gudang Garam serta Djaja menggunakan font klasik yang khusus dibuat yang menjadi ciri khas produk ini dengan tulisan berwarna merah disertai strokes berwarna putih. Dalam hal ini, latar kemasan pada bagian depan dan belakang kemasan menggunakan motif Batik Kawung yang sudah dimodifikasi secara rupa sehingga tercipta motif Kawung yang terdiri dari tembakau dan cengkeh. Lambang Batik Kawung sendiri melambangkan pekerja keras, dalam hal ini Gudang Garam Djaja menyasar kepada perokok yang selalu bekerja keras. Dalam hal ini tercipta antara harmonisasi dari tembakau dan cengkeh yang berpadu secara rupa sehingga menciptakan motif batik yang sangat khas dari Gudang Garam Djaja. Adanya tulisan KING SIZE pada kemasan mampu menggambarkan ukuran dari batang rokok ini, yakni King Size (84 mm) yang sama panjangnya dengan SKM Full Flavor King Size pada umumnya. Kemudian adanya tulisan 12 SIGARET KRETEK mampu menggambarkan rokok ini masuk kedalam jenis rokok SKT. Dalam hal ini, motif batik dan unsur wajib kemasan masuk kedalam objek rounded rectangle yang tersusun secara harmonis. Pada bagian belakang kemasan terdapat deskripsi dimana rokok ini dibuat dengan menggunakan bahan pilihan yang ditujukan kepada penikmat tantangan kehidupan, yang secara implisit kita bisa bilang sebagai pekerja keras. Dalam hal ini, bagian samping kemasan terlihat adanya objek yang di-fold dimana dalam hal ini dapat disimpulkan pada bagian pengemasan, rokok ini menggunakan pengemasan yang berbeda jauh dengan SKT pada umumnya. Seperti halnya rokok Gudang Garam pada umumnya, letak tulisan SKT ada pada bagian barcode kemasan, dimana pada bagian samping lainnya tertutupi dengan objek pita cukai. Bagian atas kemasan terdapat semacam honor bertuliskan 12 KRETEK CIGARETTES dimana dalam hal ini dapat digambarkan rokok ini berisi 12 rokok kretek. Penempatan pabrikan agak kesamping kanan kemasan, hal ini untuk mengakomodasi letak pelekatan dari pita cukai itu sendiri. Sangat menarik untuk dilihat, dan menjual. Untuk kemasan sendiri saya beri nilai 8.9 dari 10.

Kemudian kita buka plastiknya dengan seksama


Dikarenakan kemasan ini menggunakan model fold ala softpack pada umumnya, maka ada dua cara untuk membuka kemasannya. Pertama ialah buka lipatannya dengan seksama, atau robek di salah satu bagian lipatan baik di objek kanan ataupun kiri. Dalam hal ini saya mencoba membuka lipatannya. Dalam hal ini kita bisa melihat adanya lipatan yang menutupi rokok dengan seksama. Dalam hal ini kita bisa buka lipatannya sebagai berikut


Terlihat jelas ketika kita membuka lipatan kedua, maka ada semacam objek lipatan plastik yang berguna untuk menjaga kualitas dan citarasa dari rokok sejak dibungkus di pabrik. Dalam hal ini, kita bisa melihat full plastiknya di gambar di bawah ini.


Plastik ini tersusun dalam dua lipatan dengan kuantitas isi 12 batang yang tersusun dari 6 di bagian depan dan 6 di bagian belakang, dimana kita bisa merobeknya salah satu bagian (baik kanan ataupun kiri) untuk mengeluarkan batang rokoknya. Bila kita robek salah satu sudut lipatan plastiknya maka batang rokok bisa dikeluarkan sehingga bisa dilihat secara berikut (Namun admin akui perlu usaha lebih untuk mendorong batang rokoknya).


Dikarenakan admin sudah berhasil menarik batang rokoknya, maka kita bisa lihat batang rokoknya secara detail dengan seksama. 


Batang rokok ini memiliki diamter dan panjang yang menurut saya sama saja dengan jenis SKT pada umumnya, yakni berukuran King Size seperti yang sudah dijelaskan pada bagian analisis. Bagian batasan tipping terdapat tulisan Djaja berwarna hijau disertai bagian tipping berupa tulisan Gudang Garam dalam objek berwarna merah, dimana dalam hal ini tulisannya berwarna putih. Bagian lintingan cukup padat menurut saya, namun hal tersebut paling utama hanya ada pada bagian tippingnya saja, sedang pada bagian atasnya tidak sepadat bagian bawahnya. Dibandingkan dengan Djarum yang bagian atas dan bawahnya sangat padat.

Kemudian kita coba rasakan rokoknya dengan seksama


Rasa rokok ini dominan dengan karakter spicy dan fruity, terutama perpaduan antara raspberry dengan sedikit nangka namun di dominasi oleh rasa raspberry dalam intensitas yang cukup terasa. Dalam hal ini, rasa spicynya sangat terasa, penggunaan cengkeh pilihan serta saus rempah yang kuat membuat citarasa rokok ini terasa akan sensasi gurih namun dengan intensitas yang cukup baik. Dalam hal ini, saya sedikit menemukan unsur fermented berkat penambahan unsur saus berbasis buah yang menciptakan rasa yang sangat balance. Walaupun grade tembakau yang digunakan cenderung tembakau bergrade rendah dari Gudang Garam, sensasi nutty kuat sangat terasa pada rokok ini disertai dengan sensasi gurih yang sangat terasa. Cukup earthy, dalam hal ini pemilihan tembakau gunung layak cukup terasa pada rokok ini. Dalam hal ini terasa sensasi warming yang diciptakan berkat penambahan saus rempah serta cengkeh bermutu menengah namun berjenis sama khas produk buatan Gudang Garam. Manisnya bisa dibilang tidak begitu manis, namun cukup terasa di lidah. Dalam hal ini saya juga bisa merasakan sensasi harshness dalam intensitas yang tinggi, namun bisa dikatakan ditolerir oleh tubuh saya. Tarikannya sangat mantap, dalam hal ini sensasi throat hit sangat terasa ketika saya mencoba menariknya secara dalam. Untuk perokok yang biasa merokok Dji Sam Soe akan merasa rokok ini cenderung lebih kasar dibandingkan Dji Sam Soe. Dikarenakan kepadatan pada bagian tippingnya baik, maka daun pada rokok ini cenderung tidak masuk ke mulut. Memiliki aftertaste asam tembakau yang sangat terasa dan sensasi gurih spicy berpadu dengan sensasi nutty yang sangat terasa dan menurut saya pribadi cukup intens. Durasi bakar rokok ini cukup lama, berkisar 10 sampai 15 menit per batang rokok dimulai dari sejak awal membakar batang rokoknya. Namun, kelemahan rokok ini ialah ketika mendekati batasan tipping paper akan sedikit merasakan perubahan rasa, dimana dalam hal ini adanya reaksi pembakaran tipping paper yang cukup glossy membuat ada semacam rasa kimia. Dan juga aroma rokok ini termasuk kuat, sehingga kurang cocok bila diajak ke tongkrongan. Dan saya jujur agak sedikit gatal setelah merokok ini. Saya cukup suka terhadap rasa rokok ini, untuk kategori rokok 10 ribu rokok ini termasuk enak. Untuk rasa sendiri saya memberi nilai 8.8 dari 10.

KESIMPULAN

Bagi anda yang merasa kantong anda kurang untuk membeli Gudang Garam Merah namun tetap menginginkan kualitas rasa yang hampir sama dengan harga yang lebih murah. Dalam hal ini secara rasa, Gudang Garam Djaja menawarkan kepuasan yang terhitung baik untuk rokok dengan harga yang murah. Kelemahan rokok ini ada pada tarikan bagi orang awam akan merasa berat, adanya perubahan ketika mendekati batasan tipping, serta kemungkinan besar akan membuat gatal tenggorokan bagi yang tidak begitu cocok. Distribusi rokok ini bisa dibilang sangat minim, hanya di jual di warung tertentu saja dan untuk kawasan Depok dan sekitarnya, saya sangat susah untuk menemukan rokok ini. Walaupun secara rasa cukup baik, akan tetapi bila tidak ditunjang dengan distribusi yang baik maka menurut saja sama saja bohong. Padahal kita bisa lihat, cukup banyak perokok yang merasa sudah kesulitan membeli Dji Sam Soe yang notabenenya menjadi pilihan utama bagi perokok jenis SKT. Kalau saja pihak Gudang Garam mau memaksimalkan produksi dari rokok ini (atau misal Gudang Garam Merah saja) maka Gudang Garam bisa meningkat penjualannya, tentunya disertai dengan promosi yang baik. Saya lihat juga, dengan adanya Jaya Show yang berupa konser dangdut yang menyasar segmen menengah kebawah, kurang begitu bisa meningkatkan produksi dan penjualan dari rokok ini. Hal ini terjadi dikarenakan Gudang Garam Djaja untuk saat ini tidak menggunakan media ATL utama yakni televisi sebagai media utama penjualan rokok pada umumnya. Overall saya memberi nilai rokok ini 9.23 dari 10. Artinya, kemasan rokok ini menarik untuk dilihat, harganya yang murah, serta rasanya yang menurut saya tidak begitu murahan untuk rokok dengan harga 10 ribu.

Demikian postingan saya kali ini. Bila ada pertanyaan silahkan email saya, mention saya di @ReviewRokok, like Page Facebook blog ini di fb.me/ReviewRokok, dan ask saya di ask.fm/reviewrokok. Sekian dan terima kasih.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. muantep kang emang Djaja...joss hehe,

    kalo boleh, Sriwedari kapan di review kang ??

    eniwei buswei, ane suka sama blog ini kang, sukses selalu !!

    BalasHapus
  2. saya setia merokok djaya, sdh 1th ini, setelah beralih dari gg merah,.

    BalasHapus